RADARCIREBON.ID – Pagelaran sound horeg yang digelar di Desa Dompyong Wetan, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon saat Lebaran 2026 menuai penolakan dari warga setempat. Kegiatan hiburan dengan suara musik berintensitas tinggi tersebut dinilai mengganggu kenyamanan masyarakat, terutama setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan.
Sejumlah warga mengaku terganggu dengan kebisingan yang ditimbulkan dari sound horeg. Mereka menilai, momen Lebaran seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat, bersilaturahmi, dan menikmati suasana yang tenang bersama keluarga. Namun, suara keras dari acara tersebut justru menciptakan kondisi yang berlawanan.
Salah satu pemuda Desa Dompyong Wetan, Syahrul, menyampaikan kekecewaannya atas penyelenggaraan acara tersebut. Menurutnya, kegiatan itu tidak mempertimbangkan kenyamanan warga sekitar. “Kami bukan tidak mendukung hiburan, tapi kalau suaranya terlalu keras dan berlangsung lama, tentu sangat mengganggu. Apalagi ini masih suasana Lebaran, banyak warga yang ingin beristirahat,” ujarnya.
Baca Juga:Harga Terjangkau, Fitur Melimpah! Ini Spesifikasi Lengkap Xiaomi Redmi Pad 2 di 2026Poppy Playtime Chapter 5 Diprediksi Rilis, Simak Fakta dan Teori Terbarunya
Keluhan serupa juga disampaikan oleh warga lainnya yang merasa aktivitas sound horeg berlangsung hingga larut malam. Selain mengganggu waktu istirahat, kebisingan tersebut juga dinilai berdampak pada anak-anak dan lansia yang membutuhkan ketenangan. Beberapa warga bahkan mengaku kesulitan tidur akibat suara musik yang terus menggema.
Tidak hanya dari sisi kenyamanan, sebagian masyarakat juga menilai bahwa kegiatan tersebut kurang sesuai dengan nilai-nilai yang dijunjung saat momen Lebaran. Mereka berharap, suasana Idulfitri dapat diisi dengan kegiatan yang lebih positif dan mempererat kebersamaan, bukan justru menimbulkan keresahan.
Atas dasar itu, warga Desa Dompyong Wetan secara tegas menyatakan penolakan terhadap rencana pagelaran sound horeg pada Lebaran tahun 2027 mendatang. Mereka berharap, pihak penyelenggara maupun pemerintah desa dapat mempertimbangkan aspirasi masyarakat sebelum mengadakan kegiatan serupa di masa depan.
Beberapa tokoh masyarakat setempat juga mendorong adanya musyawarah antara warga, panitia, dan aparat desa untuk mencari solusi terbaik. Mereka menilai, komunikasi yang baik dapat mencegah terjadinya konflik dan memastikan setiap kegiatan yang digelar tetap memperhatikan kepentingan bersama.
“Kami berharap ke depan ada koordinasi yang lebih baik. Jangan sampai kegiatan yang seharusnya menghibur justru menimbulkan masalah di tengah masyarakat,” ujar salah satu tokoh warga.
