Polres Indramayu Imbau Petani Tidak Menggunakan Jebakan Tikus Listrik

Satbinmas Polres Indramayu
BERI IMBAUAN: KBO Satbinmas Polres Indramayu IPTU Tasim mengimbau para petani di Kabupaten Indramayu agar tidak lagi menggunakan jebakan tikus berinstalasi listrik dalam mengatasi hama tikus, Selasa (13/1). Foto: ANANG SYAHRONI / RADAR INDRAMAYU
0 Komentar

INDRAMAYU – Masih ditemukannya petani di Kabupaten Indramayu yang menggunakan jebakan hama tikus berinstalasi listrik hingga menimbulkan korban jiwa, menjadi perhatian serius Satuan Pembinaan Masyarakat (Satbinmas) Polres Indramayu.

Untuk mencegah kejadian serupa terulang, para petani diimbau agar tidak lagi menggunakan jebakan tikus berbahan instalasi listrik. Terlebih saat ini Kabupaten Indramayu telah memasuki musim tanam rendeng.

“Di beberapa wilayah Kabupaten Indramayu sudah mulai memasuki musim tanam, bahkan ada yang sudah melakukan persemaian padi,” ujar Kapolres Indramayu AKBP M Fajar Gemilang melalui KBO Sat Binmas IPTU Tasim.

Baca Juga:Wow! Ratusan Desa di Indramayu Segera Miliki Gerai KDMP, APDESI Juga MendukungSepanjang 2025, Lebih dari 812 Ribu Wisatawan Kunjungi Indramayu

Sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kejadian yang tidak diinginkan, seperti jatuhnya korban jiwa akibat penggunaan jebakan tikus beraliran listrik, Satbinmas Polres Indramayu secara masif melakukan sosialisasi kepada para petani mengenai bahaya dan dampak dari metode tersebut.

Iptu Tasim mengimbau seluruh petani agar lebih bijak dalam menangani serangan hama tikus. Khususnya dalam memilih cara pengendalian hama yang aman dan tidak membahayakan diri sendiri maupun petani lainnya, bahkan hingga berujung pada kematian.

“Beberapa bulan lalu sempat terjadi korban jiwa akibat jebakan tikus dengan instalasi listrik. Karena itu kami mengimbau agar metode tersebut tidak lagi digunakan. Lebih baik memanfaatkan jebakan konvensional atau dilakukan secara gotong royong,” jelas Tasim.

Ia juga menyarankan agar petani menggunakan metode pengendalian hama yang lebih aman. Seperti gropyokan tikus, serta memanfaatkan predator alami dengan menyediakan rumah burung hantu (rubuha) di setiap hamparan sawah sebagai habitat burung hantu liar.

“Selain itu, bisa dilakukan pengasapan menggunakan belerang pada sarang tikus. Mari kita saling peduli dan menjaga keselamatan bersama, demi petani yang makmur dan masyarakat yang sejahtera,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, H Sutatang. Ia mengajak seluruh petani di Indramayu agar lebih berhati-hati dan bijak dalam mengendalikan hama tikus dengan metode yang tidak membahayakan keselamatan petani.

“Ada beberapa rekomendasi yang bisa dilakukan, seperti mengutamakan gotong royong melalui gropyokan tikus dan pengasapan, karena itu yang paling aman. Selain itu, petani juga bisa menggunakan teknologi jebakan tikus yang direkomendasikan oleh para PPL,” katanya. (oni)

0 Komentar