Namun yang paling mencolok justru mereka yang bekerja di balik dapur. Sekitar 8–10 orang relawan inti berasal dari kalangan tunawisma. Dulu mereka berada di barisan antrean. Kini mereka berdiri di balik meja pembagian.
Jumlah orang di dapur sekitar 11. Mereka disebut sebagai Pendekar Warnas Hamba Allah. Mereka tinggal di area tersebut. Setiap hari memasak, mencuci piring, menyiapkan bahan, dan menjaga alur distribusi. “Dulu mereka yang menerima makan. Sekarang mereka yang memberi makan,” kata Taufik.
Kalimat itu terasa nyata siang itu. Seorang relawan mengatur antrean dengan suara tenang namun tegas. Ia tahu persis bagaimana rasanya menunggu.
Baca Juga:PSIT Dijual Lagi Padahal Sudah MoU, Proses Akuisisi Cacat Hukum
Setahun bukan waktu singkat bagi kegiatan sosial harian tanpa libur. Banyak gerakan serupa tumbang di tengah jalan. Kehabisan dana. Kehabisan tenaga. Kehabisan kepercayaan. Warung Nasi Hamba Allah masih berdiri. Masih mengepul.
Saat porsi terakhir dibagikan dan antrean mulai menipis, dapur belum benar-benar berhenti. Piring kembali dicuci. Meja dilap. Persiapan esok hari mulai dipikirkan.
Di kompleks sederhana itu, makan siang gratis bukan sekadar soal nasi. Tapi tentang keyakinan bahwa solidaritas bisa bertahan –selama masih ada yang mau berdiri, mengantre, dan memberi. (*)
