RADARCIREBON.ID- Antrean mengular di Kompleks Perguruan PUI Kota Cirebon, Rabu siang (14/1/2026). Di bawah terik matahari, ratusan orang menunggu giliran makan siang gratis. Warung Nasi Hamba Allah genap setahun menanak harapan tanpa APBN dan tanpa jeda.
Dari halaman kompleks pendidikan itu, barisan manusia bergerak perlahan. Tubuh-tubuh berdempetan, nyaris tanpa jarak. Wajah-wajah lelah bercampur sabar. Ada yang menggenggam kantong plastik, ada yang menunduk menahan panas, ada pula yang menggendong anak kecil. Di atas kepala, deretan umbul-umbul merah putih tergantung di rangka atap, bergoyang pelan diterpa angin siang.
Di salah satu sudut bangunan bercat kuning, pintu pembagian makan siang terus terbuka-tutup. Seorang relawan berbaju hijau mengulurkan bingkisan berwarna cerah. Tangan penerima menyambut cepat. Di belakangnya, antrean lain sudah siap. Tak ada sorak. Tak ada seremonial. Semua berjalan senyap, tertib, dan berulang.
Baca Juga:PSIT Dijual Lagi Padahal Sudah MoU, Proses Akuisisi Cacat Hukum
Hari itu bukan hari biasa. Warung Nasi Hamba Allah –bagian dari Komunitas Tebar Rahmat Cirebon– menggelar syukuran satu tahun. Tepat setahun sejak kegiatan makan siang gratis ini dimulai, 13 Januari 2025 lalu.
Ketua Komunitas Tebar Rahmat Cirebon, Dadang Kurniadi, menyebut momen ini sebagai milad pertama. Bukan perayaan besar, melainkan ungkapan syukur karena dapur masih menyala hingga hari ke-365. “Untuk hari ini kami sediakan sekitar 400-an porsi,” ujarnya kepada Radar Cirebon, kemarin siang (14/1/2026).
Jumlah itu sedikit lebih banyak dari hari biasa, yang rata-rata mencapai 300 porsi makan siang gratis setiap hari. Menu yang tersaji sederhana, namun layak. Nasi hangat, lauk protein hewani bergantian –kadang telur, ayam, atau ikan– disandingkan dengan sayur yang terus dirotasi. Tempe dan tahu menjadi pelengkap yang hampir selalu hadir. Tidak ada menu mewah. Tetapi juga tidak asal jadi.
Di balik pintu dapur, belasan orang bekerja tanpa banyak bicara. Panci-panci besar mengepul. Wajan berdenting. Piring disusun, dicuci, lalu disiapkan kembali. Semua bergerak cepat, seolah telah hafal ritme.
Warung Nasi Hamba Allah lahir bukan dari perencanaan panjang. Ia berawal dari obrolan informal para alumni remaja masjid era 1990-an. Diskusi ringan yang berujung pada satu keputusan: membuka layanan makan siang gratis.
